• SMP NEGERI 1 BANGUNTAPAN
  • Sekolah Berstandar Nasional

Menjadi Guru Memesona pada Abad 21 melalui Model Pembelajaran Inovatif Berbasis TPACK

Memasuki awal tahun 2020, dunia sedang dilanda pandemi Covid-19. Pandemi ini perlahan namun pasti mengubah segala aspek kehidupan, termasuk pendidikan. Segala kegiatan belajar-mengajar yang semula dilaksanakan secara tatap muka, kini berganti menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dengan sistem daring. Kondisi ini tentu bukan sebuah hal yang mudah untuk dilakukan. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa belajar dengan sistem daring dinilai oleh sebagian kalangan tidak efektif. Lantas, bagaimana kita sebagai guru dalam menyikapi hal tersebut? 

Kita telah sampai pada abad 21, di mana kemampuan guru harus lebih berkembang dibandingkan sebelumnya. Guru memiliki karakteristik yang lebih spesifik seperti memiliki etos kerja yang tinggi, mampu memanfaatkan perkembangan iptek, berperilaku profesional tinggi dalam mengemban tugas dan menjalankan profesi, memiliki wawasan yang luas, memiliki keteladanan moral serta estetika yang tinggi, serta mengembangkan prinsip kerja bersaing dan bersanding.

Agar mampu bersaing di tengah zaman yang semakin maju, seorang guru harus bisa menjadi guru yang memesona bagi peserta didik. Guru memesona merupakan guru yang mampu memahami kebutuhan belajar peserta didik sesuai dengan karakteristiknya. Peserta didik memiliki tiga karakteristik yang menonjol yaitu aktif, kreatif, dan inovatif. Kegiatan pembelajaran terpusat pada peserta didik yang terlibat secara aktif melalui kegiatan diskusi, baik klasikal maupun kelompok. Peserta didik dapat mengemukakan pendapatnya secara terbuka dan saling menanggapi satu sama lain. Guru berperan sebagai fasilitator/penyedia sarana dan prasarana yang peserta didik butuhkan, seperti memberikan bimbingan ketika diskusi sedang berlangsung maupun memberikan penguatan pada akhir kegiatan diskusi berdasarkan pengalaman belajar yang diperoleh peserta didik.

Ciri lain pembelajaran pada abad 21 ini peserta didik kreatif dan inovatif dalam memanfaatkan teknologi (youtube, facebook, instagram, google, dan sebagainya) untuk mencari informasi-informasi terkait materi yang sedang dipelajari maupun materi tambahan lain yang mereka perlukan guna mendukung proses merekonstruksi pengetahuan. Namun, guru harus menyadari bahwa kemajuan teknologi juga bisa memberi ruang penyalahgunaan apabila tidak ada kontrol yang memadai. Dampaknya, peserta didik akan terjerumus melakukan hal-hal yang negatif. Maka dari itu, guru perlu menganalisis model pembelajaran inovatif yang mampu mengakomodasi penggunaan teknologi secara tepat, efektif, dan efisien agar segala dampak negatif yang mungkin terjadi bisa diminimalisasi.

Model pembelajaran inovatif yang bisa dikembangkan pada abad 21 ini adalah model pembelajaran berbasis TPACK (Technological Pedagogical Content Knowledge), yaitu model pembelajaran yang menggabungkan tiga aspek utama meliputi teknologi, pedagogi, dan konten atau bahan ajar yang diperlukan. Melalui model pembelajaran ini, guru bisa melibatkan alat teknologi digital untuk menyampaikan materi/bahan ajar, melakukan diskusi, memberi penugasan, dan evaluasi pembelajaran. Dengan memanfaatkan teknologi, peserta didik juga bisa berinovasi dengan pengetahuan yang mereka miliki untuk mengembangkan apa yang mereka dapatkan. Sebagai contoh, dalam kegiatan diskusi kelompok, dengan memanfaatkan teknologi yang berkembang pesat serta mudah dijangkau, peserta didik menyusun bahan presentasi yang menarik, baru, bahkan belum pernah digunakan sebelumnya melalui aplikasi-aplikasi tertentu yang mereka kuasai. Guru kemudian melakukan evaluasi keseluruhan pembelajaran yang telah dilakukan di mana pembelajaran berpusat pada peserta didik itu sendiri, kemudian melakukan refleksi bersama peserta didik untuk perbaikan pembelajaran selanjutnya.

Menjelajahi teknologi digital memberi guru kesempatan untuk merancang kegiatan pembelajaran dengan lebih menarik karena rancangan pembelajarannya dapat dilakukan sepenuhnya daring atau dikombinasikan dengan kegiatan tatap muka. Hal ini dikenal dengan istilah Blended Learning, yaitu perpaduan antara kegiatan pembelajaran luring dengan kegiatan pembelajaran daring. Ada banyak model pembelajaran Blended Learning yang bisa dipilih dan diterapkan sesuai dengan karakteristik peserta didik di sekolah. Pembelajaran Blended Learning ini bisa menjadi alternatif ke depan apabila pandemi Covid-19 ini mulai mereda, bahkan telah menghilang.

Selain penggunaan teknologi, aspek lain yang tidak kalah penting dari TPACK ini adalah aspek pedagogi. Guru tidak hanya terampil mengembangkan perangkat pembelajaran, tetapi dapat memahami perbedaan individual setiap peserta didik dengan baik sehingga pengelolaan pembelajaran dapat berjalan secara tepat dan mencapai hasil yang optimal. Di samping itu, tentu yang tidak kalah penting lainnya adalah pengetahuan guru itu sendiri terhadap muatan atau konten bahan ajar atau materi yang akan disampaikan kepada peserta didik.

Kita tidak tahu sampai kapan pandemi ini berakhir. Namun, kita bisa memanfaatkan platform-platform media digital dalam menyampaikan pembelajaran secara kreatif. Beberapa waktu yang lalu bahkan Menteri Pendidikan Republik Indonesia, Nadiem Makarim, sempat mewacanakan bahwa PJJ atau pembelajaran jarak jauh ini akan dipermanenkan. Jika saja hal ini benar-benar diwujudkan, guru harus siap untuk belajar segala bentuk kemajuan teknologi yang saat ini sedang berkembang agar bisa menciptakan sebuah pembelajaran yang menarik bagi peserta didik dengan berbasis pada teknologi.

Pandemi tidak bisa lagi dijadikan alasan yang menghambat ketercapaian kurikulum. Siap atau tidak, kita harus menjadi guru masa depan di era new normal. Apa yang dimaksud dengan guru masa depan? Guru masa depan adalah guru yang adaptif mengikuti perkembangan teknologi sehingga kebiasaan guru dalam mengggunakan model-model pembelajaran konvensional harus mulai diubah karena sudah tidak sesuai dengan konteks perkembangan zaman.

Tugas guru memang tidak sedikit. Guru tidak hanya sebatas mengajar peserta didik sesuai mata pelajaran yang diampunya kemudian melakukan penilaian atau evaluasi pembelajaran. Namun, guru juga harus menanamkan nilai-nilai pendidikan karakter kepada peserta didik. Guru adalah mitra peserta didik dalam kebaikan. Guru yang memiliki karakter yang baik akan menghasilkan peserta didik dengan karakter yang baik pula. Tak jarang, guru menjadi idola bagi peserta didiknya. Maka dari itu, agar semakin dicintai oleh peserta didik, seorang guru harus bisa menjadi guru yang memesona, dekat dengan peserta didik, menguasai materi dengan baik, serta mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi  di era revolusi 4.0 atau abad 21.

Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi mengubah pula peran guru dari “penanam pengetahuan” menjadi pembimbing, pengarah diskusi, dan pengukur kemajuan belajar. Kepribadian guru akan selalu diamati dan dinilai oleh peserta didik. Menerapkan kedisiplinan pada peserta didik pun tidak akan berhasil apabila guru sendiri masih jauh dari kata berintegritas. Integritas inilah yang menjadi pilar mendasar bagi seorang guru untuk mencapai keberhasilan dalam menanamkan nilai-nilai karakter pada peserta didik. Harus disadari, keberhasilan itu tidak bisa dilakukan seorang diri, melainkan perlu adanya kerja sama yang baik dengan semua guru di sekolah. Dimulai dengan adanya komunikasi yang baik dengan semua guru di sekolah serta peserta didik, penguatan pendidikan karakter akan bisa dilakukan dalam segala aspek.

 

Penulis : Diah Mulyaningsih, S.Pd. (Guru Bahasa Indonesia)

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Fokus dan Konsisten Langkah Awal Menuju SMP 1 Banguntapan Menjadi Yang Terdepan

Sahabat pembaca insan pendidikan di SMP 1 Banguntapan, seperti kita ketahui bersama banyak sekolah berlomba-lomba untuk menjadi nomor satu, menjadi yang terdepan dalam hal inovasi dan p

13/10/2020 22:09 - Oleh Administrator - Dilihat 10 kali